Lebih Sehat dengan Cermat Asupan Gula, Garam, dan Lemak

21 December 2015

Selalu hidup sehat yang bebas dari penyakit adalah harapan dan keinginan semua orang. Sayangnya, data WHO (World Health Organization) tahun 2014 mengatakan, bahwa 71% penyebab kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas. Kok bisa?

Penyakit Tidak Menular (PTM) umumnya disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, salah satunya adalah konsumsi makanan yang tinggi gula, tinggi garam, dan tinggi lemak. Peraturan Menteri Kesehatan menyatakan bahwa konsumsi gula lebih dari 50 gram (4 sendok makan), natrium lebih dari 2000 mg (5 g garam dapur atau setara 1 sendok teh), atau lemak total lebih dari 67 gram (sekitar 5 sendok makan) per orang per hari berisiko tingkatkan hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung. WHO sendiri merekomendasikan untuk membatasi asupan gula sampai 25 gram (2 sendok makan) per hari untuk memberikan benefit kesehatan tambahan bagi orang dewasa.

Faktanya, batasan-batasan itu sangat mudah terlampaui dalam keseharian, karena asupan gula, garam, dan lemak bukan hanya asupan yang Anda secara sadar tambahkan, melainkan juga asupan yang “tersembunyi” di makanan dan minuman yang Anda santap, contohnya:

- 1 kaleng soda= 48,90 gram gula dan 1 kotak teh (300 ml) = 26 gram gula; padahal batasan gula adalah 50 gram
- 1 sajian mi instan = 1.800 mg natrium padahal batasan asupan garam 2000 mg
- 1 mangkok Soto Betawi 41,5 gr lemak, 1 gelas susu full cream (250 ml) = 8 gram lemak padahal batas asupan lemak 67 gram

 

Bagaimana menyiasatinya, supaya hidup tetap sehat dan menyenangkan? Coba lakukan tips-tips berikut ini.

 

Baca Informasi Nilai Gizi

Biasakan membaca Informasi Nilai Gizi pada kemasan produk makanan dan minuman yang Anda beli. Di sana, Anda dapat mengetahui kandungan gula, garam, dan lemak. Baca dan ketahui juga takaran sajinya. Biasanya, informasi nilai gizi yang terlampir adalah informasi nilai gizi dalam 1 sajian, bukan dalam 1 kemasan. Apabila dalam 1 kemasan tertulis kandungan gula 10 gram, dan kemasan tersebut terdiri dari 2 kali saji, artinya produk tersebut memberikan asupan gula total 20 gram gula per kemasan.

 

Ganti Gula dengan Gula Rendah Kalori

Supaya Anda tetap dapat menikmati rasa manis tanpa khawatir kelebihan kalori dan kenaikan gula darah Anda secara cepat, ganti gula pasir yang biasa Anda gunakan dengan gula rendah kalori Tropicana Slim. Gula rendah kalori Tropicana Slim aman dikonsumsi dan memiliki rasa manis yang paling enak dibandingkan gula rendah kalori lainnya.

 

Pilih Susu Rendah Lemak

Susu dikenal sebagai minuman kaya kalsium, mineral, dan protein yang sangat baik untuk kesehatan. Supaya lebih baik, pilih juga susu yang low fat (rendah lemak). Ini membantu Anda membatasi asupan lemak total dari susu dan makanan atau minuman lainnya. Bisa dijadikan pilihan, Tropicana Slim Low Fat Milk rasa vanila, yang lebih rendah lemak, kaya serat untuk membantu menurunkan kolesterol.

 

Pilih Mi Instan Lebih Rendah Garam dan Rendah Kalori

Mi instan merupakan salah satu makanan yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Namun, Anda harus berhati-hati karena kandungan natrium (garam) pada 1 porsi mi instan bisa mencapai 1000 mg natrium. Padahal, batas asupan natrium adalah 2000 mg per hari. Oleh karena itu, pilih mi instan yang lebih rendah garam, lebih rendah kalori, dan lebih rendah lemak, misalnya Tropicana Slim Less Fat Noodle, yang proses produksinya dipanggan, bukan digoreng. Tropicana Slim Less Fat Noodle juga tersedia dalam 2 varian rasa yang enak, yaitu rasa Kepiting Saus Padang dan rasa Ayam Bakar.

 

Selain membatasi asupan garam, gula, dan lemak, lakukan juga aktivitas fisik minimal selama total 150 menit setiap minggu untuk membantu menjaga kesehatan Anda.

Jadi, ingin hidup sehat dan panjang umur? Batasi asupan gula, garam, dan lemak Anda mulai dari sekarang!

 

 

Sumber:

1 . WHO. 2014. Indonesia Health Report. Available from http://www.who.int/nmh/countries/idn_en.pdf.

2. WHO. 2015. Prevalence of Insufficient Physical Activity. Available from http://www.who.int/gho/ncd/risk_factors/physical_activity_text/en/


Related Post


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *