Indahnya Dunia Lewat Mata Sehat
Dunia ini memang sangat indah: bunga-bunga di taman, warna-warna yang mempesona, dan jutaan hal menarik lainnya di sekitar kita. Untuk dapat memandangi dan menikmatinya dengan sempurna, kita memerlukan mata yang sehat. Bagaimana cara menjaga mata agar tetap sehat, terutama seiring dengan bertambahnya umur? Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan diet rendah GI (Glicemic Index).
Mata : Penting Namun Rentan
Mata merupakan salah satu organ yang sangat penting bagi manusia. Namun, mata cukup rentan terhadap penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya ganguan penglihatan, terutama pada orang yang berusia lanjut. Salah satu penyakit mata yang banyak menyerang orang-orang yang berumur lebih dari 50 tahun adalah Age-related Macular Degeneration (AMD).
Penyakit AMD menyerang bagian macula dari retina mata. Bagian macula sendiri berfungsi untuk mengatur agar pandangan mata tetap jelas. Apabila seseorang terkena penyakit AMD, pandangannya akan menjadi terbatas dan kurang jelas (kabur) serta pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya kebutaan. Ciri-ciri awal dari penyakit ini adalah adanya noda putih atau kuning pada retina atau saraf optik yang dikenal sebagai drusen.
Diet Rendah GI ?
Glycemic index (GI) menyatakan besarnya pengaruh karbohidrat yang terdapat dalam suatu bahan pangan terhadap kadar glukosa dalam darah. Diet rendah GI berarti mengonsumsi bahan-bahan pangan yang memiliki GI yang rendah. Bahan pangan ini mengandung karbohidrat yang terurai secara lebih lambat di dalam tubuh sehingga tidak menyebabkan kenaikan kadar glukosa dalam darah secara drastis. Contohnya: gandum dan biji-bijian.
Diet rendah GI biasa dilakukan oleh penderita diabetes. Bagaimana pengaruhnya bagi Anda yang tidak menderita diabetes? Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Harvard, diketahui bahwa diet rendah GI dapat menurunkan tingkat risiko seseorang terhadap penyakit AMD. Hubungan antara diet rendah GI dengan penyakit AMD ini diyakini karena diet rendah GI mengandung bahan-bahan makanan yang mengandung banyak zat gizi yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata, seperti buah, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan susu.
Zat-zat gizi tersebut meliputi mineral dan antioksidan. Jenis antioksidan yang banyak diperoleh antara lain vitamin C, vitamin E, dan karotenoid. Karotenoid akan diubah menjadi vitamin A di dalam tubuh. Vitamin A berfungsi untuk menjaga mata agar tetap sehat dengan membantu pengeluaran cairan kental yang dapat mencegah infeksi pada mata. Tapi, vitamin A bersifat mudah rusak akibat proses oksidasi. Di sini, terlihatlah peran vitamin E sebagai antioksidan yang dapat melindungi vitamin A dari kerusakan. Sedangkan, vitamin C dapat meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan infeksi.
Hal ini menunjukkan bahwa diet rendah GI dapat membantu menjaga kesehatan mata. Memang zat-zat gizi tersebut (mineral dan antioksidan) dapat diperoleh secara lebih mudah dan praktis dengan mengonsumsi suplemen. Tapi, ingatlah bahwa mengonsumsi bahan-bahan alami tentu lebih baik. Jadi, mulailah atur pola makan Anda agar tidak menyesal nantinya. Selain mata Anda akan lebih sehat, dunia pun akan terlihat lebih indah.
Diabetes Bikin Susah Jalan?
Hang-out di cafe, hobi mengonsumsi junk food, minum alkohol, dan lain sebagainya, adalah kebiasaan yang akhir-akhir ini sering dilakukan untuk melepas kejenuhan. Namun, tanpa Anda sadari, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan jumlah penderita diabetes.
Jumlah penderita diabetes di Indonesia semakin lama semakin bertambah banyak. Sekedar informasi, saat ini terdapat sekitar 4.5 juta penderita diabetes di Indonesia. Dan jumlah ini semakin bertambah dengan cepatnya hingga diperkirakan dapat mencapai angka 12.4 juta pada tahun 2025 nanti. Mungkin orang tua Anda, rekan Anda atau justru Anda sendiri juga termasuk di dalamnya?
Bertambahnya jumlah penderita diabetes berkaitan dengan gaya hidup yang semakin tidak sehat. Padahal, diabetes erat kaitannya dengan berbagai macam komplikasi, termasuk berkurangnya massa dan kekuatan otot kaki.
Diabetes dan Komplikasinya
Diabetes adalah penyakit dimana penderitanya tidak dapat mengatur kadar gula darah secara normal. Akibatnya, para penderita diabetes dapat mengalami kenaikan kadar gula darah yang drastis setelah makan. Hal ini berkaitan erat dengan adanya gangguan pada hormon insulin (hormon yang berperan di dalam metabolisme gula) pada penderita diabetes.
Penyakit diabetes sendiri diketahui dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi. Journal of Hypertension menyatakan bahwa penderita diabetes seringkali mengalami kerusakan ginjal, sedangkan jurnal Ophtalmology menyatakan bahwa penderita diabetes memiliki tingkat risiko penyakit glaukoma yang lebih tinggi. Glaukoma sendiri adalah penyakit yang menyerang bagian mata dan dapat menyebabkan kebutaan. Archives of Gerontology and Geriatrics juga menyatakan bahwa penderita diabetes memiliki tingkat risiko penyakit jantung yang lebih tinggi, mulai dari tingkat risiko penyakit darah tinggi hingga serangan jantung.
Diabetes dan Kekuatan Otot Kaki
Tidak hanya gangguan-gangguan di atas, penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan antara penyakit diabetes dan berkurangnya massa dan kekuatan otot kaki. Hasil penelitian yang tercantum pada Diabetes Care menunjukkan bahwa para penderita diabetes yang berusia lanjut mengalami pengurangan massa otot pada kaki yang lebih besar, apabila dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita diabetes.
Akibatnya, para penderita diabetes berusia lanjut ini terbukti memiliki kekuatan otot kaki yang lebih lemah. Penuaan memang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan berkurangnya kekuatan otot kaki. Namun, berkurangnya kekuatan otot kaki pada penderita diabetes ternyata lebih besar, hingga 13.5 % dalam 3 tahun. Hal ini diyakini berhubungan dengan terjadinya proses peradangan yang juga menyerang otot kaki.
Berkurangnya massa dan kekuatan otot kaki ini diyakini dapat menyebabkan gangguan fungsi kaki pada penderita diabetes, seperti tercantum pada Clinical Biomechanics. Dan apabila tidak segera diatasi, akan dapat menyebabkan gangguan berjalan dan bergerak.
Nah, bagi Anda penderita diabetes, aturlah pola makan dengan tepat sehingga kadar gula dapat tetap dikontrol. Kombinasikan juga dengan pola hidup yang aktif, coba latih kaki Anda dengan latihan-latihan ringan untuk melatih kekuatan kaki. Bagi Anda yang tidak menderita diabetes, lindungi diri Anda dengan baik, dengan menerpakan gaya hidup sehat. Jangan sampai menyesal nantinya.
Hati-hati, Diabetes itu Menurun
Apakah orang tua Anda menderita diabetes? Jika iya, berhati-hatilah karena penelitian menujukkan bahwa orang-orang yang memiliki sejarah keluarga dengan diabetes ternyata memiliki tingkat resiko terkena diabetes yang lebih tinggi. Hasil penelitian yang tercantum pada jurnal Diabetes ini menunjukkan bahwa mereka yang memiliki ibu penderita diabetes memiliki tingkat resiko terkena diabetes 3.4 kali lipat lebih tinggi, sedangkan mereka yang memiliki ayah penderita diabetes memiliki tingkat resiko terkena diabetes 3.5 kali lipat lebih tinggi. Dan apabila kedua orangtuanya menderita diabetes, mereka memiliki resiko terkena diabetes sebanyak 6.1 kali lipat lebih tinggi.
Jadi, berhati-hatilah jika orangtua Anda menderita diabetes.. Mulailah menjaga pola makan, gaya hidup, dan berat badan Anda karena faktor-faktor ini juga mempengaruhi tingkat resiko diabetes.. Hasil penelitian yang tercantum pada International Journal of Obesity menunjukkan bahwa 38 % dari mereka yang memiliki sejarah keluarga diabetes dapat terhindar dari diabetes jika indeks massa tubuh (IMT) mereka tidak lebih dari 30 kg/m2 (IMT adalah rasio antara berat badan dan tinggi badan, dimana IMT ≥ 23 kg/m2 menunjukkan bahwa orang tersebut mengalami kelebihan berat badan).
Bukan Hanya Salah Insulin
Hampir semua orang tahu, bahwa penyakit diabetes erat kaitannya dengan ganguan hormon insulin dalam tubuh yang menyebabkan tingginya kadar gula darah seseorang. Padahal, banyak faktor lainnya yang menyebabkan penyakit diabetes dan membuatnya makin parah, salah satunya adalah kekurangan kandungan chromium di dalam tubuh. Masih belum banyak orang yang tahu -mungkin termasuk para diabetesi-bahwa chromium juga memberikan pengaruh terhadap penyakit yang ditakuti ini.
Usia Lanjut dan Chromium
Chromium merupakan salah satu jenis mineral mikro yang dibutuhkan di dalam jumlah yang kecil, yaitu sejumlah ≤ 100 mg/hari atau ≤ 0.01 % dari berat badan. Chromium diketahui berperan penting di dalam metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Selain itu, chromium juga diperlukan untuk kerja hormon insulin (hormon yang berperan di dalam metabolisme glukosa) sehingga berhubungan dengan penyakit diabetes.
Namun pada kenyataannya, mereka yang berusia lanjut ternyata berisiko kekurangan chromium di dalam tubuh, seperti tercantum pada The British Journal of Nutrition. Hal ini disebabkan karena mereka yang berusia lanjut lebih banyak mengalami kehilangan chromium melalui urine. Kehilangan chromium ini sendiri berhubungan dengan meningkatnya pengeluaran chromium seiring dengan bertambahnya usia. Selain itu, asupan chromium pada mereka yang berusia lanjut juga diketahui lebih rendah.
Padahal, kekurangan chromium dapat mengganggu metabolisme glukosa, metabolisme lemak, dan kerja hormon insulin seperti tercantum pada jurnal Metabolism: Clinical and Experimental. Akibatnya, tingkat risiko penyakit diabetes dan penyakit jantung pun meningkat. Jadi untuk memperbaiki kerja hormon insulin, salah satunya adalah dengan keajaiban dari chromium.
Penuhi Asupan Chromium
Untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan akibat kekurangan chromium, pastikan asupan chromium Anda mencukupi. Beberapa penelitian sudah menunjukkan manfaat suplementasi chromium untuk membantu memperbaiki metabolisme glukosa dan menurunkan kadar lemak tubuh pada mereka yang berusia lanjut.
Caranya pun tidak sulit, yaitu dengan memilih makanan yang banyak mengandung chromium, seperti kuning telur, sereal, kacang, dan brokoli. Selain itu, saat ini Anda juga dapat mendapatkan manfaat chromium dari segelas susu meal replacement bagi penderita diabetes. Dan jangan lupa untuk mengurangi konsumsi gula dan makanan tinggi gula. Makanan yang tinggi gula tidak hanya rendah kandungan chromiumnya, konsumsi gula berlebih juga dapat meningkatkan pengeluaran chromium dari dalam tubuh.
Bingung berapa jumlah chromium yang Anda butuhkan setiap harinya? Berdasarkan tabel Dietary Reference Intakes yang dikeluarkan oleh Food and Nutrition Board, Institute of Medicine, National Academies, diketahui bahwa para pria yang berusia di atas 50 tahun membutuhkan 30 mcg chromium per hari sedangkan para wanita yang berusia di atas 50 tahun membutuhkan 20 mcg chromium per hari.
Pastinya sekarang Anda baru sadar bahwa ternyata chromium juga sangat penting untuk kesehatan. Tapi ingat, chromium saja tidak cukup untuk sehat di usia lanjut. Jangan lupa juga untuk selalu menjalankan pola hidup sehat dengan memilih makanan yang sehat dan rutin berolahraga.
Keajaiban Oat Untuk Diabetesi
Sarapan apa Anda pagi ini? Nasi goreng? Nasi uduk? Sandwich? Atau oat? Jika Anda sudah menyertakan oat sebagai bagian dalam menu harian Anda, berari pilihan Anda sudah tepat. Mengapa? Saat ini, oat sudah banyak dikenal sebagai makanan yang bermanfaat untuk kesehatan. Ternyata oat juga memiliki manfaat berlipat ganda untuk para penderita diabetes, mulai dari membantu mengatur kadar gula darah, membantu mengatur berat badan, serta membantu menjaga kesehatan jantung. Tertarik?
Oat dan Kadar Gula Darah
Manfaat oat yang sangat penting bagi penderita diabetes adalah membantu mengatur kadar gula darah. Hasil penelitian yang tercantum pada Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa beta-glucan pada oat dapat membantu mencegah terjadinya peningkatan kadar gula darah secara drastis pada penderita diabetes setelah makan. Mekanisme pasti di balik kehebatan oat ini belum diketahui dengan jelas, namun diyakini berhubungan dengan penghambatan penyerapan zat-zat makanan (termasuk gula) oleh serat pada oat.
Penelitian lain yang dilakukan oleh para ahli dari University of Texas Southwestern Medical Center juga membuktikan hasil yang serupa. Hasil penelitian yang tercantum pada New England Journal of Medicine ini menyatakan bahwa serat makanan (seperti beta-glucan pada oat ) dapat membantu mengatur kadar gula darah pada penderita diabetes. Hal ini penting agar tidak terjadi peningkatan dan penurunan kadar gula darah secara drastis sebelum dan sesudah makan.
Oat dan Pengaturan Berat Badan
Konsumsi serat makanan juga dapat membantu pengaturan berat badan pada penderita diabetes. Hasil penelitian yang tercantum pada Diabetes Research and Clinical Practice menunjukkan bahwa menambahkan serat makanan pada produk pengganti makan khusus penderita diabetes dapat membantu meningkatkan rasa kenyang hingga 27,1%. Hal ini dapat membantu mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi selanjutnya dan mengurangi rasa lapar yang timbul 2 dua jam sesudah makan. Jangan lupa bahwa menjaga berat badan sangatlah penting bagi penderita diabetes untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.
Oat dan Kesehatan Jantung
Manfaat oat yang sudah banyak diketahui, yaitu untuk kesehatan jantung. Hasil penelitian yang tercantum pada Nutrition Journal menyatakan bahwa beta-glucan yang terkandung di dalam oat dapat membantu menurunkan kadar kolesterol pada mereka yang memiliki kadar kolesterol yang tinggi.
Manfaat oat ini juga dibuktikan oleh penelitian lain, seperti tercantum pada Cochrane Database of Systemic Reviews , yang menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi oat secara rutin ternyata memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah. Nah, manfaat oat untuk kesehatan jantung ini sangatlah penting bagi penderita diabetes karena penderita diabetes memiliki tingkat risiko penyakit jantung yang lebih tinggi, seperti tercantum pada Archives of Gerontology and Geriatrics.
Bagi penderita diabetes, dapatkan manfaat berlipat ganda dari oat. Anda dapat mengonsumsi Diabetamil rasa coklat yang telah diperkaya dengan serat oat. Sebagai tambahan camilan, pilihlah camilan yang juga mengandung serat oat, seperti Diabetamil Cookies.
Nyemil Itu Sehat
“Jangan nyemil, nanti gula darahnya naik loh!” Bagi penderita diabetes ancaman menakut-nakuti semacam itu mungkin sudah sering didengar. Sampai-sampai makanan camilan menjadi momok bagi kita. Padahal, nyemil justru baik dan sehat, serta memberikan beberapa keuntungan.
Nyemil atau mengudap adalah menyantap makanan apa pun di luar waktu makan utama. Nyemil bisa dilakukan di antara makan pagi dan makan siang, atau antara makan siang dan makan malam. Bahkan, ada sebagian dari kita yang masih memerlukan nyemil setelah makan malam. Makanan yang kita santap di luar waktu makan tersebut lazim disebut makanan selingan, kudapan, camilan, atau snack.
Penderita diabetes sebenarnya bisa menikmati camilan seperti mereka yang sehat, asalkan dibatasi jumlahnya sesuai dengan kebutuhan. Pada dasarnya penderita diabetes tetap membutuhkan pola makan yang teratur; makan tiga kali sehari (pagi, siang, dan malam) ditambah dengan makanan selingan, karena penderita diabetes tetap membutuhkan gula untuk aktivitas sel-sel di dalam tubuhnya. Jadi, yang menjadi masalah sebenarnya bukan kebiasaan ngemil itu sendiri, melainkan pilihan jenis makanan camilan serta jumlahnya.
Rasa lapar bisa muncul lebih cepat jika kita sedang banyak beraktivitas fisik, banyak berpikir, atau stres. Empat jam setelah makan utama, persediaan gula yang beredar dalam darah biasanya mulai menipis. Di sisi lain, hati tidak mampu lagi memasok gula darah karena stok karbohidrat yang bisa diubah menjadi gula darah sudah terkuras habis. Apabila rasa lapar didiamkan, maka kadar gula darah akan makin merosot. Akibatnya tenaga menurun, pikiran sulit berkonsentrasi, perasaan gelisah, dan mudah tersinggung. Jika dibiarkan berlarut-larut, hal ini bisa mengakibatkan keluar keringat dingin dan tak sadarkan diri.
Untuk mengembalikan kadar normal gula darah, Anda sebaikya tetap memasukkan camilan ke dalam pola makan Anda setiap harinya. Jika kita bertahan untuk tidak nyemil sementara perut lapar, maka pada jam makan utama rasa lapar akan memuncak. Kondisi lapar berat ini cenderung membuat kita makan melebihi batas kewajaran. Akibatnya kadar gula darah meningkat secara mendadak. Sebaliknya, jika di antara waktu makan utama kita nyemil, pada jam makan utama keinginan makan akan wajar-wajar saja, sehingga kadar gula darah pun tetap terkontrol.
Lalu, jenis camilan apa yang sebaiknya dipilih bagi penderita diabetes? Camilan yang sebaiknya dipilih yakni camilan dengan jumlah kalori terkontrol, bebas gula, memiliki GI (indeks glikemik) rendah sehingga dapat diserap tubuh secara perlahan. Bila Anda bingung memilih makanan yang akan menjadi camilan Anda, kini tersedia Diabetamil Cookies yang merupakan produk dari Tropicana Slim. Diabetamil Cookies dapat dijadikan solusi nyemil yang sehat bagi para penderita diabetes karena di dalamnya terkandung jumlah kalori yang terkontrol, tanpa gula, dan rendah GI. Temukan solusi nyemil sehat dalam Diabetamil Cookies!

