<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tropicana Slim &#187; Diabetes &amp; Komplikasinya</title>
	<atom:link href="http://www.tropicanaslim.com/category/info-sehat/diabetes-komplikasi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tropicanaslim.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Aug 2010 09:07:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kenali Resiko Diabetes lebih Dini</title>
		<link>http://www.tropicanaslim.com/kenali-resiko-diabetes-lebih-dini</link>
		<comments>http://www.tropicanaslim.com/kenali-resiko-diabetes-lebih-dini#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 10:01:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekadian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes & Komplikasinya]]></category>
		<category><![CDATA[Info Sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tropicanaslim.com/?p=1358</guid>
		<description><![CDATA[Diabetes merupakan penyakit  yang disebabkan karena adanya gangguan pada kerja hormon insulin, yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Hormon insulin merupakan hormon yang mengatur metabolisme glukosa dalam darah. Pada penderita diabetes, gangguan tersebut menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan dikenal dengan istilah “hyperglycemia”. Hyperglycemia menyebabkan keberadaan glukosa pada urine penderita diabetes. Hal inilah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diabetes merupakan penyakit  yang disebabkan karena adanya gangguan pada kerja hormon insulin, yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Hormon insulin merupakan hormon yang mengatur metabolisme glukosa dalam darah. Pada penderita diabetes, gangguan tersebut menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan dikenal dengan istilah “hyperglycemia”. Hyperglycemia menyebabkan keberadaan glukosa pada urine penderita diabetes. Hal inilah yang menyebabkan diabetes sering disebut juga dengan penyakit “kencing manis”<sup>1</sup>.<span id="more-1358"></span></p>
<p>Pada umumnya diabetes di deteksi dengan menggunakan kadar gula darah <em>puasa</em> (<em>Fasting plasma glucose</em>). Jika kadar gula puasa Anda lebih dari 100 mg/dL maka bisa jadi Anda beresiko terkena diabetes. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan bahwa tidak hanya dengan kadar gula puasa , kini resiko diabetes bisa diprediksi oleh kandungan LDL, HDL, Trigliserida, serta asam urat Anda.</p>
<p>Penelitian yang dilakukan di India, negara dengan populasi diabetes yang tinggi menunjukkan bahwa insulin resistance dipengaruhi oleh keadaan dyslipidemia (keadaan trigliserida berlebih, kadar HDL yang rendah, serta LDL yang tinggi ) <sup>2</sup>.</p>
<p>Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan bawah kandungan trigliserida yang tinggi ( ≥ 130 mg/dL) akan menyebabkan resiko diabetes bertambah sebesar 2.30 kali, sementara pada jika level Trigliserida rendah ≤ 130 mg/dL akan menyebabkan resiko diabetes berkurang sebesar 0.46 kali. Pada penelitian yang sama, juga digunakan parameter rasio Trigliserida dan HDL. Pada individu yang normal kandungan HDL berada pada jumlah yang tinggi (karena HDL merupakan kolesterol yang baik untuk fungsi tubuh), sementara trigliserida seharusnya berada pada level rendah. Jika rasio Trigliserida-HDL ≥ 1.8 (3.0) (Trigliserida Tinggi) dan HDL rendah, maka resiko terkena diabetes akan meningkat 2 kali lipat <sup>3</sup>.</p>
<p>Selain ketiga indikator di atas, Asam urat juga merupakan indikator lain yang dapat memprediksikan adanya resistensi kerja insulin yang merupakan bagian dari gejala diabetes. Hasil penelitan yang dilakukan di Bosnia, menunjukkan bahwa pada individu yang menderita diabetes jumlah serum asam urat cenderung mengalami peningkatan. Dengan demikian pada individu yang mengalami gangguan resistensi insulin asam urat dapat menjadi salah satu indikator <sup>4,5</sup>.</p>
<p>Jadi selain kadar gula darah puasa, risiko diabetes kini juga dapat dideteksi melalui kandungan trigliserida, HDL, LDL, serta asam urat Anda. Sudahkah Anda mengecek nilainya?</p>
<p><strong>References</strong></p>
<ol>
<li>American Diabetes Association. 2009. Diabetes Basics. <a href="http://www.diabetes.org/diabetes-basics/">http://www.diabetes.org/diabetes-basics/</a></li>
<li>Misra , A and N.K. Vikram. 2002. Insulin resistance syndrome (metabolic syndrome) and Asian Indians CURRENT SCIENCE 83 (12) : 1483-1496.</li>
<li>McLaughlin, et al. 2003. Use of Metabolic Markers To Identify Overweight Individuals Who Are Insulin Resistant. <em>Ann Intern Med</em>.139:802-809.</li>
<li>Causevic, et al. 2010. Relevance of Uric Acid in Progression of Type 2 Diabetes Mellitus. Bosnian Journal of Basic Medical Sciences 10 (1): 54-59.</li>
<li>Nan, et al. 2010. Serum uric acid, plasma glucose and diabetes. Diabetes &#038; Vascular Disease Research 7(1) 40– 46</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tropicanaslim.com/kenali-resiko-diabetes-lebih-dini/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vitamin D dan Diabetes</title>
		<link>http://www.tropicanaslim.com/vitamin-d-dan-diabetes</link>
		<comments>http://www.tropicanaslim.com/vitamin-d-dan-diabetes#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 02:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>julian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes & Komplikasinya]]></category>
		<category><![CDATA[Diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[Vitamin D]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tropicanaslim.com/?p=1271</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Anda merasa sulit mengontrol kadar gula darah Anda? Mungkin saja hal ini dikarenakan kurangnya konsumsi vitamin D Anda!
Penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh pasien diabetes tipe 2 mengalami defisiensi vitamin D. Defisiensi vitamin D dapat terjadi akibat kurangnya paparan terhadap sinar matahari dan kurangnya konsumsi vitamin D. Adapun tanda seseorang mengalami kekurangan vitamin D yaitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah Anda merasa sulit mengontrol kadar gula darah Anda? Mungkin saja hal ini dikarenakan kurangnya konsumsi vitamin D Anda!</p>
<p>Penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh pasien diabetes tipe 2 mengalami defisiensi vitamin D. Defisiensi vitamin D dapat terjadi akibat kurangnya paparan terhadap sinar matahari dan kurangnya konsumsi vitamin D. Adapun tanda seseorang mengalami kekurangan vitamin D yaitu apabila kadar serum vitamin D dalam darah kurang dari 31 nanogram per desiliter.<span id="more-1271"></span></p>
<p>Pasien yang mengalami defisiensi vitamin D dalam darah cenderung memiliki kadar hemoglobin A1c yang tinggi<sup>1</sup>. Adapun kadar hemoglobin A1c merupakan salah satu indikator resiko diabetes. Tingginya kadar hemoglobin A1c menandakan buruknya kontrol gula dalam darah. Para ahli kemudian menyimpulkan bahwa defisiensi vitamin D berkaitan dengan buruknya pengontrolan gula darah<sup>1,2</sup>.</p>
<p>Suplementasi vitamin D diketahui dapat membantu memperbaiki metabolisme glukosa dan aktivitas insulin. Hal tersebut tak lepas dari peran vitamin D dalam meningkatkan produksi hormon insulin serta memperbaiki respons insulin terhadap glukosa<sup>2</sup>. Selain itu, suplementasi vitamin D pun dapat mencegah penyakit autoimun seperti diabetes tipe 1, terutama pada bayi dan anak-anak<sup>3</sup>. Adapun konsumsi vitamin D bersama kalsium lebih efektif dalam mencegah prevalensi diabetes tipe 2. Hal ini dikarenakan vitamin D dan kalsium bekerja bersama sinergis dalam memperbaiki metabolisme glukosa<sup>2</sup>.</p>
<p>Vitamin D dapat membantu Anda mengontrol kadar gula darah. Karena itu, penuhilah konsumsi vitamin D Anda! Sangatlah baik untuk berjalan di pagi hari. Sinar matahari dapat membantu meningkatkan sintesis vitamin D dalam tubuh. Jangan lupa konsumsi susu yang kaya akan kalsium dan vitamin D untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin D harian Anda.</p>
<p>References</p>
<ol>
<li>Patel, P., L. Poretsky, and E. Liao. 2009. Lack of Effect of Subtherapeutic vitamin D treatment on glycemic and lipid parameters in type 2 diabetes: A pilot prospective randomize trial. <em>Journal of Diabetes</em> 2: 36-40.</li>
<li>Pittas, A.G., et. al. 2007. The Role of Vitamin D and Calcium in Type 2 Diabetes: A Systematic Review and Meta-Analysis. <em>The Journal of Clinical Endocrinology &#038; Metabolism</em> 92 (6): 2017-2029.</li>
<li>Holick, M.F. 2004. Vitamin D: Importance in the prevention of cancers, type 1 diabetes, heart disease, and cholesterol. <em>American Journal of Clinical Nutritrion</em> 79: 362-371.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tropicanaslim.com/vitamin-d-dan-diabetes/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beras Merah untuk Diabetes</title>
		<link>http://www.tropicanaslim.com/beras-merah-untuk-diabetes</link>
		<comments>http://www.tropicanaslim.com/beras-merah-untuk-diabetes#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 09:49:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>julian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes & Komplikasinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tropicanaslim.com/?p=1256</guid>
		<description><![CDATA[Anda perlu waspada apabila terbiasa mengonsumsi nasi putih. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi sedikitnya 5 porsi nasi putih dalam seminggu berakibat pada peningkatan resiko diabetes tipe 2. Sebaliknya, resiko diabetes tipe 2 dapat ditekan dengan mengganti beras Anda dengan beras merah. Konsumsi nasi merah sebanyak 2 porsi atau lebih dalam seminggu dapat menurunkan resiko diabetes tipe [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda perlu waspada apabila terbiasa mengonsumsi nasi putih. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi sedikitnya 5 porsi nasi putih dalam seminggu berakibat pada peningkatan resiko diabetes tipe 2. Sebaliknya, resiko diabetes tipe 2 dapat ditekan dengan mengganti beras Anda dengan beras merah. Konsumsi nasi merah sebanyak 2 porsi atau lebih dalam seminggu dapat menurunkan resiko diabetes tipe 2. Selain itu, substitusi sepertiga porsi nasi putih dengan nasi merah pun dapat menurunkan resiko diabetes tipe 2 sebesar 16%<sup>1</sup>.<span id="more-1256"></span> </p>
<p>Nasi merah baik untuk penderita diabetes karena memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih. Hal ini dikarenakan kandungan seratnya yang tinggi. Beras biasa mengalami proses penggilingan yang menyebabkan hilangnya sebagian besar serat serta vitamin dan mineral. Padahal, serat dapat memperlambat masuknya glukosa ke dalam darah. Karena kandungan seratnya yang tinggi itulah nasi merah tidak meningkatkan gula darah secara drastis1. Selain unggul dalam kandungan serat, nasi merah pun memiliki kandungan vitamin dan mineral yang lebih tinggi dibandingkan nasi putih. Sebagai contoh, beras merah kaya akan vitamin B, magnesium, dan zat besi yang diperlukan tubuh<sup>2</sup>.</p>
<p>Begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari beras merah. Mungkin Anda masih belum terbiasa dengan beras merah, tetapi Anda dapat meningkatkan konsumsi beras merah Anda secara perlahan-lahan untuk hidup yang lebih sehat. Selamat mencoba.</p>
<p>References:</p>
<ol>
<li>Arch Intern Med, 2010; 170 (11): 961-969.</li>
<li>USDA Nutrient Database, 2010</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tropicanaslim.com/beras-merah-untuk-diabetes/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternyata Snacking Dapat Membantu Penderita Diabetes!</title>
		<link>http://www.tropicanaslim.com/ternyata-snacking-dapat-membantu-penderita-diabetes</link>
		<comments>http://www.tropicanaslim.com/ternyata-snacking-dapat-membantu-penderita-diabetes#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 07:18:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>julian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes & Komplikasinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tropicanaslim.com/?p=1219</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa anggapan bahwa orang yang terkena diabetes tidak boleh makan snack. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Malahan, penelitian menunjukkan bahwa snacking dapat membantu memperbaiki keseimbangan gula darah dalam tubuh1,2,3.
Penelitian menunjukkan bahwa snacking memiliki efek metabolik yang sama seperti makanan dengan Indeks Glikemik rendah. Pasalnya, dengan membagi waktu makan menjadi porsi kecil tetapi sering, karbohidrat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada beberapa anggapan bahwa orang yang terkena diabetes tidak boleh makan snack. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Malahan, penelitian menunjukkan bahwa snacking dapat membantu memperbaiki keseimbangan gula darah dalam tubuh<sup>1,2,3</sup>.<span id="more-1219"></span></p>
<p>Penelitian menunjukkan bahwa snacking memiliki efek metabolik yang sama seperti makanan dengan Indeks Glikemik rendah. Pasalnya, dengan membagi waktu makan menjadi porsi kecil tetapi sering, karbohidrat seolah dicerna dan diserap secara lebih lambat dan stabil. Kenaikan gula darah dan kebutuhan insulin pun menjadi lebih rendah Manfaatnya, toleransi glukosa meningkat sehingga metabolisme tubuh dapat berjalan dengan lebih baik. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa membagi makanan menjadi beberapa porsi kecil dapat menurunkan kadar asam lemak, kolesterol, dan trigliserida dalam tubuh<sup>1,2,3</sup>. </p>
<p>Orang yang hidup dengan diabetes disarankan untuk makan makanan dengan Indeks Glikemik rendah. Seperti yang telah diketahui, makanan dengan Indeks Glikemik rendah lebih lambat diserap dan dicerna tubuh3. Karena itu, makanan dengan Indeks Glikemik rendah tidak akan mempengaruhi kadar gula darah secara drastis.</p>
<p>Penting untuk diingat bahwa Anda harus tetap menjaga asupan makanan Anda. Karena itu, bijaklah dalam memilih! Pilihlah snack bebas gula dengan kalori terkontrol. Buah-buahan serta cookies bebas gula dengan kalori terkontrol dapat menjadi pilihan. Tropicana Slim terdepan dalam memaniskan Indonesia. </p>
<p><strong>References</strong></p>
<ol>
<li>Jenkins DJA, Wolever TMS, Vuksan V, et al. 1989. “Nibbling versus gorging: metabolic advantages of increased meal frequency.” N Engl J Med 321: 929-934.</li>
<li>Jenkins, D.J.A. 1992. Metabolic advantages of spreading the nutrient load: effets of increased meal frequency in non-insulin-dependent diabetes. Am J Clin Nutr 55: 461-467.</li>
<li>Jenkins, D.J.A. 1997. Carbohydrate tolerance and food frequency. British Journal of Nutrition 77: S71-S81.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tropicanaslim.com/ternyata-snacking-dapat-membantu-penderita-diabetes/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Super Tasters? Beware of Your Sugar Consumption!</title>
		<link>http://www.tropicanaslim.com/super-tasters-beware-of-your-sugar-consumption</link>
		<comments>http://www.tropicanaslim.com/super-tasters-beware-of-your-sugar-consumption#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 04:17:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>julian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes & Komplikasinya]]></category>
		<category><![CDATA[Info Sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tropicanaslim.com/?p=1178</guid>
		<description><![CDATA[Merasa penasaran kenapa ada beberapa orang tertentu yang tidak menyukai teh? Atau cenderung menambahkan gula lebih banyak pada kopi mereka? Mungkin mereka adalah super tasters!
Beberapa orang dilahirkan sebagai tasters. Tasters yaitu orang yang dapat mendeteksi rasa pahit pada senyawa 6-n-prophylthiouracil (PROP), sedangkan super tasters merupakan tasters yang memiliki kepekaan sangat tinggi terhadap rasa pahit tersebut. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Merasa penasaran kenapa ada beberapa orang tertentu yang tidak menyukai teh? Atau cenderung menambahkan gula lebih banyak pada kopi mereka? Mungkin mereka adalah <em>super tasters</em>!</p>
<p>Beberapa orang dilahirkan sebagai tasters. Tasters yaitu orang yang dapat mendeteksi rasa pahit pada senyawa 6-n-prophylthiouracil (PROP), sedangkan <em>super tasters</em> merupakan <em>tasters</em> yang memiliki kepekaan sangat tinggi terhadap rasa pahit tersebut. Adapun <em>non-tasters</em> tidak dapat mendeteksi rasa pahit pada senyawa PROP<sup>1,2</sup>. Penelitian menunjukkan bahwa selain dapat merasakan rasa pahit pada PROP, <em>tasters</em> dan <em>super tasters</em> pun memiliki kepekaan rasa lebih tinggi dibandingkan <em>non-tasters</em><sup>2</sup>.<span id="more-1178"></span></p>
<p>Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang tergolong <em>super tasters</em> cenderung tidak menyukai makanan yang memiliki rasa agak pahit seperti sayuran, susu kedelai, teh, coklat, dan kopi1. Karena itulah, mereka cenderung menutupi rasa pahit pada makanan atau minuman dengan menambahkan gula<sup>3.</sup></p>
<p>Hal inilah yang patut diwaspadai! Pasalnya, karena lebih peka terhadap rasa pahit, <em>super tasters</em> cenderung menambahkan gula relatif lebih banyak dibandingkan <em>non-tasters</em><sup>3</sup>. Apabila hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin para s<em>uper tasters</em> mengalami kelebihan konsumsi gula, dan memiliki resiko lebih tinggi terkena diabetes!</p>
<p>Data statistik menunjukkan bahwa 70% dari populasi umum merupakan <em>tasters</em><sup>4</sup>. Karena prevalensinya yang cukup tinggi, bukan tidak mungkin Anda atau keluarga Anda merupakan tasters atau <em>super tasters</em> dan tanpa disadari memiliki konsumsi gula yang cukup tinggi. Karena itu, gantilah gula Anda dengan pemanis rendah kalori atau tanpa kalori! Pemanis rendah kalori memiliki kalori yang jauh lebih rendah dan terkontrol dengan rasa manis yang sama sehingga lebih aman untuk kesehatan Anda dan orang-orang terkasih Anda. Tropicana Slim, terdepan dalam memaniskan Indonesia.</p>
<p><strong>References</strong></p>
<ol>
<li>Drewnowski., A, S.A. Henderson, and A.B. Fornell. 2001. Genetic Taste Markers and Food Preferences. Drug Metabolism and Deposition 29 (4): 535-538.</li>
<li>Drewnowski., A, et. al. 1999. Taste and Food Preferences as Predictors of Dietary Practices in Young Women. Public Health Nutrition 2 (4): 513-519.</li>
<li>Ly, A. and A. Drewnowski. 2001. PROP (6-n-propylthiouracil) Tasting and Sensory Responses to Caffeine, Sucrose, Neohesperidin Dihydrohalcone and Chocolate. Chem. Senses 26: 41-47.</li>
<li>Tepper, B.J. and R.J. Nurse. 1997. Fat perception is Related to PROP Taster Status. Physiology &#038; Behaviour 61 (6): 949-954.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tropicanaslim.com/super-tasters-beware-of-your-sugar-consumption/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manisnya Buah Untuk Diabetesi</title>
		<link>http://www.tropicanaslim.com/manisnya-buah-untuk-diabetesi</link>
		<comments>http://www.tropicanaslim.com/manisnya-buah-untuk-diabetesi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 10:43:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>julian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes & Komplikasinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tropicanaslim.com/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[Konsumsi buah-buahan sangatlah dianjurkan oleh American Diabetes Association sebagai bagian dari pola pengaturan makan diabetesi1. Anda tidak perlu khawatir untuk menikmati sehat dan lezatnya buah-buahan. Yang terpenting, pilihlah buah-buahan dengan nilai indeks glikemik2 yang rendah. Berikut kami berikan contoh buah-buahan yang selain nikmat dan aman  juga memiliki berbagai manfaat  terhadap kesehatan tubuh Anda. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konsumsi buah-buahan sangatlah dianjurkan oleh American Diabetes Association sebagai bagian dari pola pengaturan makan diabetesi<sup>1</sup>. Anda tidak perlu khawatir untuk menikmati sehat dan lezatnya buah-buahan. Yang terpenting, pilihlah buah-buahan dengan nilai indeks glikemik<sup>2</sup> yang rendah. Berikut kami berikan contoh buah-buahan yang selain nikmat dan aman  juga memiliki berbagai manfaat  terhadap kesehatan tubuh Anda. Sajikan dalam keadaan fresh dan konsumsilah dalam jumlah yang cukup. <span id="more-964"></span></p>
<p><strong>Kiwi</strong><br />
Indeks Glikemik = 53<br />
Anda dapat menjumpai buah ini di pasaran dalam dua jenis warna, kuning dan hijau. Kiwi hijau terasa agak lebih masam sedangkan kiwi berwarna kuning lebih manis, namun keduanya memiliki kandungan vitamin C yang tinggi di dalamnya sehingga membantu meningkatkan daya tahan tubuh Anda<sup>3</sup>.</p>
<p><strong>Anggur</strong><br />
Indeks Glikemik = 43<br />
Anggur merupakan pilihan yang praktis bagi para diabetesi. Kandungan alami resveratrol pada anggur sangat baik bagi tubuh karena berfungsi sebagai antioksidan yang dapat membantu menjaga kesehatan sel-sel tubuh Anda. </p>
<p><strong>Stroberi</strong><br />
Indeks Glikemik = 38<br />
Stroberi populer karena rasanya yang segar dan nikmat. Hal ini menjadikan buah ini banyak disukai orang. Stroberi juga mengandung tinggi vitamin C dan anthocyanin; keduanya bermanfaat sebagai antioksidan bagi tubuh<sup>5</sup>. Diabetesi pun tidak perlu ragu untuk mengonsumsinya.</p>
<p><strong>Apel</strong><br />
Indeks Glikemik = 40<br />
Tidak hanya daging buahnya, kulit apel juga sangat direkomendasikan untuk dikonsumsi karena mengandung serat yang tinggi.  Konsumsi serat yang cukup sangat baik bagi para diabetesi karena membantu menjaga dan mengendalikan kestabilan kadar gula darah. Oleh karena itu, apel cocok dijadikan pilihan camilan sehat Anda.</p>
<p><strong>Jeruk</strong><br />
Indeks Glikemik = 42<br />
Selain aman bagi para diabetesi, jeruk mengandung tinggi vitamin C dan juga serat<sup>6</sup>. Penyajiannya juga bisa bermacam-macam. Dengan rasa yang menyegarkan, jeruk membantu melindungi serta meningkatkan kualitas kesehatan Anda.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ol>
<li>American Diabetes Association, 2009</li>
<li>Indeks glikemik (IG) menyatakan suatu nilai yang menunjukkan seberapa cepat suatu makanan dapat meningkatkan kadar gula darah. Semakin tinggi nilai IG suatu makanan, semakin cepat makanan tersebut meningkatkan kadar gula darah. Para diabetesi sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan dengan nilai IG yang rendah (< 55) untuk menjaga kestabilan gula darahnya</li>
<li>Nutritiondata.com, 2009</li>
<li>J Exp Clin Cancer Res. 28(1):96</li>
<li>J Agric Food Chem 51(23):6887-6892/li>
<li>Nutritiondata.com, 2009/li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tropicanaslim.com/manisnya-buah-untuk-diabetesi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Diabetes</title>
		<link>http://www.tropicanaslim.com/diabetes</link>
		<comments>http://www.tropicanaslim.com/diabetes#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 09:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>julian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes & Komplikasinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tropicanaslim.com/?p=803</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang dimaksud dengan diabetes?
Diabetes biasa dikenal dengan istilah kencing manis(1). Diabetes merupakan penyakit  yang disebabkan karena adanya gangguan pada kerja hormon insulin, yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Hormon insulin merupakan  hormon yang mengatur metabolisme glukosa dalam darah. Pada penderita diabetes, gangguan tersebut menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan dikenal dengan istilah “hyperglycemia”. Hyperglycemia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Apa yang dimaksud dengan diabetes?</strong></p>
<p>Diabetes biasa dikenal dengan istilah kencing manis<sup>(1)</sup>. Diabetes merupakan penyakit  yang disebabkan karena adanya gangguan pada kerja hormon insulin, yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Hormon insulin merupakan  hormon yang mengatur metabolisme glukosa dalam darah. Pada penderita diabetes, gangguan tersebut menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan dikenal dengan istilah “hyperglycemia”. Hyperglycemia menyebabkan keberadaan glukosa pada urine penderita diabetes. Hal inilah yang menyebabkan diabetes sering disebut juga dengan penyakit “kencing manis”. Gejala awal diabetes antara lain adalah sering merasa haus dan lapar, sering kencing, penurunan berat badan secara tiba-tiba, dan mudah merasa lelah<sup>(1)(2)</sup>.<span id="more-803"></span></p>
<p><strong>Tipe-Tipe Diabetes</strong></p>
<ol>
<li>Diabetes Tipe I.<br />
Merupakan jenis diabetes yang biasanya terdiagnosa pada anak-anak atau usia muda, dan sering disebut dengan juvenile diabetes. Dari keseluruhan populasi diabetes, hanya sekitar 5-10 % yang menderita diabetes jenis ini. Diabetes jenis ini biasanya terjadi sebagai respons dari penghancuran sistem autoimunitas (autoimmune destruction) dari sebuah sel yang dikenal dengan nama β-cells. Proses ini menyebabkan pancreas tidak mampu untuk menghasilkan hormon insulin. Kelompok penderita diabetes jenis ini sering disebut sebagai Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) karena sangat tergantung pada  terapi hormon insulin<sup>(2)(3)</sup>.</li>
<li>Diabetes Tipe II.<br />
Merupakan jenis diabetes yang terjadi pada sekitar 90-95% populasi diabetes. Biasanya diabetes tipe II mulai terdeteksi pada usia sekitar 30 tahun. Peningkatan kadar gula darah pada diabetes tipe ini terjadi karena faktor gaya hidup, seperti pola makan, berat badan yang overweight, dan juga jarang melakukan olahraga. Pada empat puluh tahun terakhir,  berat badan diduga menjadi faktor yang sangat kuat untuk meningkatkan resiko penyakit ini. Penderita diabetes tipe ini masih dapat menghasilkan insulin, namun dalam jumlah yang sedikit, sehingga sering disebut juga sebagai Non-insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)<sup>(2)(3)</sup>.
</li>
<li>Gestasional Diabetes<br />
Diabetes tipe ini terjadi pada wanita hamil yang tidak pernah menderita diabetes, tetapi memiliki kadar gula darah yang tinggi (kadar gula darah puasa &gt; 126 mg/dL) . Biasanya  diabetes tipe ini terdeteksi pada minggu ke 24-28 kehamilan. Jenis diabetes tipe ini akan memengaruhi pertumbuhan bayi  pada akhir masa kehamilan. Kadar gula darah yang tinggi akan diteruskan ke janin melalui plasenta. Hal ini menyebabkan terjadainya peningkatan kadar gula dalam darah sehingga bayi akan mengalami peningkatan kerja insulin. Setelah lahir bayi tersebut akan memiliki kecenderungan untuk menderita obesitas dan memiliki berat badan yang lebih berat. Gejala lain yang umumnya tampak pada  bayi yang ibunya menderita diabetes tipe ini adalah kesulitan bernafas dan juga <em>shoulder damage</em> pada saat bayi tersebut dilahirkan. Karena berat badan bayi meningkat, maka kemungkinan besar di kemudian hari prevalensi bayi tersebut terkena diabetes akan juga semakin tinggi<sup>(3)(4)</sup>.
</li>
</ol>
<p><strong>Faktor-Faktor Penyebab Diabetes<sup>(3)</sup>:</strong></p>
<ol>
<li>Keturunan, orang yang memiliki <em>history</em> keluarga yang pernah mengalami diabetes memiliki resiko terkena diabetes yang lebih tinggi.</li>
<li>Usia, semakin dewasa seseorang maka resikonya terkena diabetes akan semakin tinggi.</li>
<li>Jenis kelamin, prevalensi wanita terkena diabetes lebih tinggi dibandingkan prevalensi pada pria.</li>
<li>Obesitas, semakin besar kelebihan berat badan maka prevalensi terganggunya kerja insulin akan semakin besar, karena kelebihan lemak dapat menyebabkan gangguan pada kerja hormon insulin.</li>
<li>Aktivitas fisik, semakin jarang kita melakukan aktivitas fisik maka gula yang dikonsumsi juga akan semakin lama terpakai, akibatnya prevalensi peningkatan kadar gula dalam darah juga akan semakin tinggi.</li>
<li>Pola makan, pola makanan berlemak dan karbohidrat yang berlebihan akan meningkatkan resiko terkena diabetes.</li>
<li>Stress, merupakan salah satu faktor pemicu meningkatnya resiko diabetes.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pola Makan Diabetesi</strong></p>
<p>Penderita diabetes pada umumnya tidak perlu mengonsumsi jenis makanan tertentu. Hal yang penting dalam pola diet diabetes adalah membatasi jumlah dan memperhatikan jadwal makan. Dengan kata lain, goal yang ingin dicapai adalah mengonsumsi makanan yang memiliki kandungan lemak dan kalori yang rendah, serta lebih banyak mengonsumsi sayur, dan buah<sup>(5)</sup> <a href="http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=8396">American Diabetes Association</a>, menyarakan konsumsi  50- 60 % kalori dari karbohidrat, 12-20 % dari protein dan tidak lebih dari 30 % kalori berasal dari lemak<sup>(6)</sup>.</p>
<p>Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pola makan diabetes:</p>
<ol>
<li>Memilih karbohidrat dengan glikemiks indeks yang lebih rendah. Karbohidrat dengan glikemiks indeks yang rendah akan menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah yang lebih perlahan sehingga  tidak menyebabkan mudah menjadi lapar. Contoh makanan yang memiliki glikemiks indeks yang rendah adalah pasta dan oatmeal<sup>(7)</sup>.</li>
<li>Menghidari konsumsi lemak berlebihan.<br />
Penderita diabetes memiliki resiko dua kali lebih tinggi menderita penyakit jantung dan juga mengalami peningkatan kolesterol. Oleh karena itu penderita diabetes disarankan untuk membatasi konsumsi lemak jenuh dan kolesterol. Dan disarankan untuk banyak mengonsumsi minyak nabati seperti  olive oil. Sementara gajih, jeroan, dan kuning telur merupakan makanan yang sebaiknya dihindari oleh penderita diabetes<sup>(6)</sup>.</li>
<li>Mengonsumsi Fiber.<br />
Fiber merupakan nutrisi yang dapat membantu untuk mengendalikan kadar gula di dalam darah. Oleh karena itu penderita diabetes juga disarankan untuk  mengonsumsi makanan dengan fiber yang tinggi seperti oat dan sayuran<sup>(7)</sup>.</li>
<li>Mengurangi konsumsi Gula dan Garam<br />
Agar kadar gula dalam darah tidak cepat naik, penderita diabetes disarankan untuk bisa mengendalikan konsumsi gula. Konsumsi gula dalam jumlah yang tinggi akan menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah akan semakin cepat, sehingga penderita diabetes akan lebih cepat merasa lapar. Sementara itu diet rendah garam pada diabetes perlu dilakukan agar dapat membantu mengurangi resiko hipertensi pada penderita diabetes<sup>(7)</sup>.</li>
<li>Mengonsumsi air sebanyak minimal 32 ounces (5-6 gelas ) dalam sehari. Air dapat berfungsi untuk menjaga jumlah cairan dalam tubuh, sehingga dapat juga mencegah konsumsi makanan yang berlebihan jika pada saat yang bersamaan rasa lapar dan haus muncul<sup>(7)</sup>.</li>
</ol>
<p><strong>Komplikasi Diabetes<sup>(8)</sup>.</strong></p>
<ol>
<li>Komplikasi pada mata.<br />
Penderita diabetes memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan pada indra penglihatan. Beberapa gangguan yang mungkin muncul anatara lain adalah glaucoma dan katarak, yang mempengaruhi kejelasan saat melihat. Gangguan lain yang dapat terjadi adalah pada retina. Pada beberapa kasus, gangguan tersebut akan terakumulasi dan dapat menyebabkan kebutaan.</li>
<li>Komplikasi pada kaki dan kulit<br />
Penderita diabetes pada umumnya akan mengalami kekeringan pada bagian kulit kaki dan bagian permukaan tubuh yang lain. Selain itu jika terjadi luka  maka akan terbentu bekas berwarna merah gelap yang sulit untuk hilang.</li>
<li>Hipertensi<br />
Prevalensi  Hipertensi akan semakin meningkat pada penderita diabetes. Peningkatan kadar gula dalam darah akan menyebabkan resiko peningkatan tekanan darah.</li>
<li>Heart Dissease &amp; Stroke<br />
Saat terkena diabetes prevalensi penyakit jantung akan semakin meningkat. Konsumsi lemak yang berlebihan diduga menjadi penyebab utama yang akan menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah dan pada akhirnya juga akan meningkatkan resiko untuk terkena stroke. Faktanya, 2 dari 3 penderita diabetes mengalami stroke.</li>
</ol>
<p><strong>Hal-Hal yang perlu dilakukan  pada saat terkena Diabetes<sup>(2)</sup>:</strong></p>
<ol>
<li>Memperhatikan porsi makan, jumlah karbohidrat yang tidak berlebihan (sekitar 50-60 % dari total kalori). Mengurangi konsumsi   lemak jenuh, seperti gajih, jeroan, dan memilih lemak nabati  seperti <em>olive oil</em>.</li>
<li>Banyak mengonsumsi makanan berserat yang dapat membantu mengendalikan peningkatan kadar gula dalam darah.</li>
<li>Meningkatkan aktivitas &amp; rutinitas berolahraga sesuai dengan saran dari dokter.</li>
<li>Menghindarkan diri dari stress, karena  stress juga dapat memicu peningkatan komplikasi yang muncul akibat diabetes.</li>
</ol>
<h3>REFERENCES</h3>
<ol>
<li>WHO. 2008. What Is Diabetes. <a href="http://www.who.int/diabetes/en/">http://www.who.int/diabetes/en/</a></li>
<li>American Diabetes Association. 2009. Diabetes Basics. <a href="http://www.diabetes.org/diabetes-basics/">http://www.diabetes.org/diabetes-basics/</a></li>
<li>American Diabetes Association. 2004. Diagnosis and classification of diabetes mellitus. <em>Diabetes care</em> 27(S1):5-10.</li>
<li>American Diabetes Association. 2009. Gestational Diabetes. <a href="http://www.diabetes.org/gestasional-diabetes/">http://www.diabetes.org/gestasional-diabetes/</a></li>
<li>Brand-Miller, J., Foster-Powell, K. and Colagiuiri, S. 2002. <em>The New Glucose Revolution: The Glycemic Index Solution for Optimum Health</em>. Griffin Press: Adelaide.<strong> </strong></li>
<li>Mayo Clinic Foundation. 2008. Diabetes Diet: Create your healthy-eating plan <a href="http://www.mayoclinic.com/health/diabetes-diet/DA00027">http://www.mayoclinic.com/health/ diabetes-diet/DA00027</a><strong> </strong></li>
<li>Chace, D. and M. Keane. 1999. What to Eat if You Have Diabetes. Contemporary Books Chicago.</li>
<li>American Diabetes Association. 2009. Complications. <a href="http://www.diabetes.org/complications/">http://www.diabetes.org/complications/</a></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tropicanaslim.com/diabetes/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anti Diabetes Dengan Anti Oksidan</title>
		<link>http://www.tropicanaslim.com/anti-diabetes-dengan-anti-oksidan</link>
		<comments>http://www.tropicanaslim.com/anti-diabetes-dengan-anti-oksidan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 05:16:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes & Komplikasinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://f221009in123/tsi/?p=463</guid>
		<description><![CDATA[Oksigen adalah sumber kehidupan; tidak seorang pun mampu memungkirinya. Di dalam tubuh, molekul ini digunakan dalam metabolisme tubuh dan produksi energi. Sayangnya, proses tersebut terkadang menghasilkan produk sampingan yang berbahaya bagi tubuh, yaitu radikal bebas. Radikal bebas adalah suatu komponen yang sangat reaktif. Karena memiliki energi “ekstra”, radikal bebas perlu bereaksi dengan komponen lain dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oksigen adalah sumber kehidupan; tidak seorang pun mampu memungkirinya. Di dalam tubuh, molekul ini digunakan dalam metabolisme tubuh dan produksi energi. Sayangnya, proses tersebut terkadang menghasilkan produk sampingan yang berbahaya bagi tubuh, yaitu radikal bebas. Radikal bebas adalah suatu komponen yang sangat reaktif. Karena memiliki energi “ekstra”, radikal bebas perlu bereaksi dengan komponen lain dalam tubuh untuk megurangi energinya sehingga merusak sel dan mengganggu fungsinya .<span id="more-463"></span></p>
<p>Di samping oksigen yang Anda hirup, apa yang Anda makan dan bagaimana Anda menjalani hidup juga turut “menabung” radikal bebas dalam tubuh. Polusi udara dari industri dan kendaraan bermotor, asap rokok, alkohol, dan pangan berlemak dapat meningkatkan kadar radikal bebas secara dramatis yang berujung pada oxidative stress . Kondisi oxidative stress memicu banyak penyakit seperti atherosclerosis, penyakit Parkinson&#8217;s dan Alzheimer&#8217;s. </p>
<p><strong>Radikal Bebas dan Diabetes</strong><br />
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa oxidative stress juga berkontribusi pada perkembangan diabetes dan dapat memicu komplikasi seperti penyakit jantung. Menjaga kadar gula dalam darah saja ternyata tidak cukup untuk mencegah komplikasi. Oleh karena itu, memperbaiki oxidative stress adalah strategi yang efektif untuk mengurangi komplikasi diabetes. Tubuh memiliki sistem perlawanan terhadap oxidative stress dengan menghasilkan enzim-enzim antioksidan. Dari luar tubuh, beberapa sumber antioksidan antara lain vitamin (vitamin A, C, E), mineral (mangan, seng dan tembaga), beta-carotene, teh hijau, serta berbagai jenis buah dan sayuran.</p>
<p>Sayangnya, menurut penelitian yang dilakukan oleh Medina et al . tahun 2007 di Brazil, penderita diabetes justru memiliki kadar antioksidan yang lebih rendah dibandingkan orang normal. Kondisi ini tentu saja meningkatkan risiko komplikasi. Oleh karena itu, penderita diabetes sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi antioksidan dalam jumlah yang cukup untuk mencegah komplikasi.   </p>
<p>Mungkin dengan alasan itu pula, dewasa ini orang lebih memperbanyak konsumsi buah dan sayuran baik dalam bentuk segar, salad,  jus atau sebagai sayur yang menemani pangan utama. Boleh jadi itu juga alasan mengapa mojang Priangan umumnya awet cantik karena senang “berlalap ria”  , “suatu image” yang berdampak pada alasan mengapa seni berlalap ria menjadi menu favorit di Nusantara saat ini.</p>
<p><strong>Pilih Makanan yang Tepat</strong><br />
Pangan dengan kadar gula terkontrol dan kandungan antioksidan menjadi kombinasi sempurna bagi para diabetesi. DiabetaMil mampu memenuhi kebutuhan tersebut karena selain mengandung kromium yang membantu mengatur kadar gula darah, DiabetaMil juga dilengkapi dengan antioksidan seperti vitamin A, C dan E.Gaya hidup yang tepat merupakan cara yang ampuh untuk menjaga tubuh tetap sehat. Mulailah dari sekarang! </p>
<p>Studi epidemiologi (Hertog dkk, 1993) menunjukkan bahwa konsumsi pangan kaya akan antioksidan flavonoid termasuk polifenol dari teh (Mukhtar dan Ahmad, 2000) berbanding negatif dengan tingkat kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Hasil dari beberapa pengujian secara in vitro (percobaan di luar tubuh mahkluk hidup) (Miura dkk, 1995; Yamanaka dkk, 1997; Yokozawa dkk, 1997) menunjukkan  bahwa flavonoid teh dapat menghambat oksidasi oleh Cu2+ (radikal inisiator)  terhadap LDL hasil isolasi. Studi secara in vitro juga menunjukkan bahwa oksidasi pada LDL manusia dapat dihambat dengan  keberadaan vitamin C dan E pada level fisiologis (Jialal dkk, 1990) </p>
<p>Sementara itu akan halnya kanker dan tumor, banyak diantara ilmuwan spesialis setuju bahwa penyakit ini berawal dari mutasi gen atau  DNA sel. Perubahan  pada mutasi gen dapat terjadi melalui mekanisme kesalahan replikasi dan kesalahan genetika  yang berkisar antara 10-15%, atau faktor dari luar yang merubah struktur DNA seperti virus, polusi, radiasi, dan senyawa xenobiotik dari konsumsi pangan sebesar 80-85%.   Radikal bebas dan reaksi oksidasi berantai yang dihasilkan jelas berperan pada proses mutasi ini.<br />
Hasil penelitian pada pertengahan tahun 1980 yang menunjukkan bahwa beta-karoten mampu mengurangi resiko kanker paru-paru merupakan ide awal  dari perhatian akan adanya keterkaitan antioksidan dalam penghambatan penyakit ini. </p>
<p>Mekanisme aktifitas antitumor atau kanker dengan senyawa kimia dapat melalui 3 cara yaitu:<br />
1. menghambat bioktifikasi karsinogenesis<br />
2. memblok jalur pembentukan sel ganas (blocking agent) seperti antioksidan<br />
3. menekan dan memanipulasi hormon  (Okey dkk, 1998).<br />
Aktivitas antioksidan seperti halnya telah dilaporkan di atas, selain dapat mencegah autooksidasi yang menghasilkan radikal bebas dan SOR, juga dapat menekan proliferasi (perbanyakan) sel kanker.  Hanya saja mengingat bermacam-macamnya jenis sel kanker, maka efektivitas dari antioksidan uji juga beragam dan spesifik untuk kasus tertentu.      </p>
<p><strong>Antioksidan dan sumbernya </strong><br />
Berbagai definisi diberikan untuk menggambarkan “siapakah” gerangan si antioksidan ini.  Menurut  Cuppert (1997) antioksidan dinyatakan sebagai senyawa yang dengan konsentrasi lebih rendah sekalipun dibanding dengan substrat yang dapat dioksidasi, secara nyata dapat memperlambat oksidasi substrat tersebut. Definisi umum dari antioksidan adalah suatu senyawa yang dapat memperlambat proses oksidasi. Di dalam keberadaan reaksi hiperoksidasi yang sangat kompleks dalam media biologis, keseimbangan metabolik yang tepat membutuhkan mekanisme dari antioksidan.</p>
<p>Selain berperan bagi kesehatan, antioksidan juga mempunyai peran dalam menjaga mutu produk pangan. Berbagai kerusakan pada produk pangan seperti ketengikan, perubahan nilai gizi, perubahan warna dan aroma serta berbagai kerusakan fisik lain pada produk pangan karena oksidasi dapat dihambat dengan keberadaan antioksidan.  </p>
<p>Antioksidan beragam jenisnya,  mulai dari antioksidan dengan molekul kecil seperti asam askorbat, tokoferol dan glutation, hingga antioksidan yang lebih kompleks seperti enzim antioksidan seperti superoksida dismutase, glutation peroksidase, peroksidase dan katalase. Keberadaan antioksidan di dalam tubuh pun terbagi atas kelompok yang datang dari luar tubuh (antioksidan eksogenus) dan yang sudah ada di dalam tubuh (sistem pertahanan antioksidan endogenus).</p>
<p>Berdasarkan cara kerjanya,  secara luas antioksidan dibagi menjadi 5 kelompok meliputi: antioksidan primer seperti tokoferol, penangkap oksigen seperti vitamin C, antioksidan sekunder seperti asam tiodipropionat, antioksidan enzimat seperti glukose oksidase, superoksida dismutase, dan pengkhelat seperti asam sitrat.  Sedangkan berdasarkan sumbernya, antioksidan dapat diperoleh dari sumber alami dan sintesis.</p>
<p>Antioksidan alami banyak terdapat pada berbagai buah dan sayuran. Vitamin C, Beta-karoten, vitamin E dan komponen fenolik merupakan komponen dominan yang banyak dijumpai pada menu kita setiap hari sekali pun. Deddy Muchtadi dan kawan-kawan (2002) melaporkan bahwa kelompok antioksidan ini banyak terdapat pada berbagai sayuran,  seperti untuk sumber vitamin C  adalah daun singkong, daun katuk, bunga kol, dll. Sedang daun pepaya, wortel, daun singkong , bayam merupakan sayuran yang kaya akan karoten. Vitamin E banyak terdapat pada tauge, kacang panjang, daun katuk misalnya. Untuk fenolik banyak terdapat pada terong panjang, labu siam, selada, mentimun dan banyak lagi. Sumber-sumber yang tak mahal, murah meriah. Hanya saja kehilangan selama pemasakan yang dapat mencapai lebih dari 50 %, serta absorpsi dan retensi keberadaan yang cukup rendah dari antioksidan seperti vitamin E dan karoten, membuat orang lebih memilih untuk mencari produk yang lebih praktis dan tersedia dalam jumlah yang lebih mencukupi. </p>
<p><strong>Pisau bermata dua</strong><br />
Dari berbagai sumber informasi yang diperoleh terlihat bahwa hasil penelitian dan pengamatan selama ini menunjukan radikal  bebas dan SOR di satu sisi serta antioksidan di sisi lain adalah sama  bagai pisau bermata dua. Masing-masing mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus.  </p>
<p>Laporan akhir menunjukkan bahwa SOR ternyata juga mempunyai fungsi protektif.  SOR merupakan mediator penting dalam menangkap kuman, benda asing dari tubuh, pencahar keracunan bahkan sebagai penjinak sel kanker. Konsumsi antiokasidan berlebihan dapat menganggu kerja SOR. </p>
<p>Peran kontroversi dari antioksidan nampak pada hasil penelitian seperti yang dilaporkan oleh Aruoma dkk (1992, 1993) yang menunjukkan  bahwa beberapa antioksidan phenolik  dapat meningkatkan kerusakan oksidasi pada DNA, protein dan karbohidrat in vitro. Sementara itu, Yen (1997) melaporkan bahwa polifenol teh ternyata juga mempunyai efek pro-oksidan pada fase air walau selama ini lebih dianggap sebagai antioksidan.</p>
<p>Beberapa hasil penelitian lain menunjukkan bahwa jumlah penambahan antioksidan yang berlebihan akan menyebabkan dampak terbalik dari fungsi antioksidan yang diharapkan seperti halnya pada sifat antiproliferasi sel kanker. Data lain menunjukkan variasi hasil pengamatan secara in vivo (percobaan di dalam tubuh mahkluk hidup) dan in vitro (di luar mahkluk hidup) .</p>
<p>Namun demikian, masih dipercaya bahwa antioksidan memberikan pengaruh positif bagi kesehatan tubuh. Tambahan antioksidan dari luar tubuh dalam bentuk asupan pangan setiap hari mungkin merupakan jalan yang lebih bijaksana guna  mencegah masukkan antioksidan yang berlebihan ke dalam tubuh.  Asupan dalam dosis besar sekaligus seperti halnya suplemen, seharusnya lebih diperlukan bagi mereka yang pada kehidupan kesehariannya banyak terkena resiko paparan radikal bebas dan SOR yang tinggi. Yang lebih untung lagi ialah kita tak mendapatkan pengurrangan tingkat kenikmatan karena ketengikan atau perubahan sensori lain yang disebabkan oleh reaksi oksidasi ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tropicanaslim.com/anti-diabetes-dengan-anti-oksidan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cegah dan Atasi Diabetes dengan Serat Makanan</title>
		<link>http://www.tropicanaslim.com/cegah-dan-atasi-diabetes-dengan-serat-makanan</link>
		<comments>http://www.tropicanaslim.com/cegah-dan-atasi-diabetes-dengan-serat-makanan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 05:14:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes & Komplikasinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://f221009in123/tsi/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Diabetes : Takdir
Apakah benar mitos yang menyatakan bahwa diabetes adalah takdir?  Sebagian dari Anda mungkin telah mengetahui bahwa penyakit diabetes ada dua jenis, yaitu tipe I dan II.  Diabetes tipe I (juvenile-onset, insulin dependent) terjadi karena tubuh sama sekali tidak mampu memproduksi insulin, sedangkan diabetes tipe II (adult-onset, non-insulin dependent) disebabkan oleh insulin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Diabetes : Takdir</strong><br />
Apakah benar mitos yang menyatakan bahwa diabetes adalah takdir?  Sebagian dari Anda mungkin telah mengetahui bahwa penyakit diabetes ada dua jenis, yaitu tipe I dan II.  Diabetes tipe I (juvenile-onset, insulin dependent) terjadi karena tubuh sama sekali tidak mampu memproduksi insulin, sedangkan diabetes tipe II (adult-onset, non-insulin dependent) disebabkan oleh insulin yang jumlahnya kurang atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  <span id="more-460"></span></p>
<p>Diabetes tipe I, dengan prevalensi 5-10% dari total penderita diabetes, umumnya diderita sejak kanak-kanak atau remaja dan diduga disebabkan oleh faktor keturunan.  Sedangkan 90% sisanya termasuk tipe II, yang muncul saat dewasa (umumnya di usia 40 tahun ke atas).  Berdasarkan penelitian, meskipun diabetes tipe II dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, namun sebenarnya tipe ini dapat dicegah dengan pola makan dan gaya hidup sehat. Jadi, ternyata 90-95% penyakit diabetes bisa dicegah bukan?  Mungkin sekarang Anda bertanya bagaimana caranya?</p>
<p><strong>Pengaruh Pola Makan</strong><br />
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nurses’ Health Study di Harvard University terhadap 65.000 wanita selama 6 tahun menunjukkan bahwa wanita yang pola makannya tinggi gula dan rendah serat makanan, 2.5 kali beresiko lebih tinggi  terhadap diabetes dibandingkan wanita yang biasa makan banyak serat makanan dan sedikit gula.<br />
Menurut penjelasan dokter, serat larut memang mampu mengurangi kebutuhan tubuh akan insulin karena serat larut dapat memperlambat penyerapan karbohidrat dan mencegah kenaikan gula darah secara tiba-tiba.  Sebaliknya, asupan serat larut yang rendah dibarengi dengan konsumsi gula yang berlebihan dapat memicu kebutuhan insulin yang tinggi, melebihi jumlah yang mampu diproduksi pankreas.</p>
<p>Para peneliti di National Institute of Diabetes, Digestive and Kidney Diseases di Amerika membandingkan komunitas suku Pima Indian yang tinggal di Meksiko dan di Arizona.  Meskipun secara genetika mereka sama, tetapi pola makan dan gaya hidupnya jauh berbeda.  Suku Pima Indian di Meksiko umumnya pekerja keras dan sehari-hari banyak mengkonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat, seperti corn tortilla dan taco.  Sedangkan suku Pima Indian yang tinggal di Arizona jarang melakukan aktivitas fisik serta mengkonsumsi makanan rendah serat dan tinggi lemak, seperti hot dog dan french fries.  Akibatnya, 50% suku Pima Indian di Arizona yang berusia 30 sampai 64 tahun banyak menderita diabetes dan hanya 9% suku Pima Indian Meksiko yang terkena diabetes.  Penemuan ini menunjukkan bahwa untuk penyakit diabetes, pola makan dan gaya hidup memiliki pengaruh lebih besar daripada faktor genetik.</p>
<p><strong>Berapa Jumlah Serat yang Dibutuhkan?</strong><br />
American Diabetes Association (ADA) menyarankan agar penderita diabetes mengkonsumsi 50 gram serat makanan per hari.  Hal ini didasarkan pada penelitian yang dimuat di New England Journal of Medicine 2000, yang menunjukkan bahwa konsumsi 50 gram serat per hari dapat menurunkan kadar gula darah secara signifikan, bahkan dapat mengurangi kebutuhan akan obat diabetes. Serat yang bermanfaat bagi penderita diabetes adalah jenis serat larut (soluble fiber). Serat ini dapat ditemukan pada akar tanaman chicory, buah jeruk, pepaya, apel, kismis, serta kacang-kacangan seperti kacang merah, kacang tolo dan lentil.</p>
<p><strong>Tips Pola Makan Tinggi Serat</strong><br />
•	Bagi penderita diabetes, disarankan mengkonsumsi 40 gram serat per hari.<br />
•	Untuk pencegahan, disarankan mengkonsumsi 20-35 gram serat per hari.<br />
•	Tambahkan serat secara bertahap, 3-5 gram per hari untuk mencegah kembung.<br />
•	Minumlah minimal 8 gelas air per hari agar serat dapat bekerja optimal.</p>
<p><strong>Gaya Hidup Sehat</strong><br />
Selain pola makan, gaya hidup juga menentukan resiko diabetes. Seperti pada suku Pima Indian Meksiko di atas, yang banyak melakukan aktivitas fisik (40 jam per minggu) lebih jarang terkena diabetes dan kegemukan daripada Pima Indian Arizona yang aktivitas fisiknya rendah (2-3 jam per minggu).</p>
<p><strong>Bisa Lebih Efektif dari Obat</strong><br />
Diabetes Prevention Program, sebuah studi yang dilakukan di Amerika, menemukan bahwa perubahan gaya hidup serta pola makan dapat menurunkan resiko diabetes hingga 58%. Sementara pengobatan dengan obat diabetes jenis metformin ‘hanya’ mengurangi resiko diabetes sebesar 31%.  Studi tersebut dilakukan di 27 medical center Amerika dengan melibatkan 3.234 orang yang mengalami impaired glucose tolerance (toleransi glukosa terganggu), tahap awal dari penyakit diabetes tipe II. Gaya hidup dan pola makan yang diterapkan dalam studi ini mencakup olah raga selama 30 menit per hari, makanan rendah lemak, serta menjaga berat badan pada kisaran normal </p>
<p>Jadi, tunggu apa lagi? Jika Anda menderita diabetes atau beresiko terkena diabetes (keturunan penderita diabetes, kegemukan, berusia lebih dari 40 tahun, kurang olah raga), segera ubah pola makan dan gaya hidup Anda! (cdy)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tropicanaslim.com/cegah-dan-atasi-diabetes-dengan-serat-makanan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pecinta Manis, Hati-hatilah!</title>
		<link>http://www.tropicanaslim.com/pecinta-manis-hati-hatilah</link>
		<comments>http://www.tropicanaslim.com/pecinta-manis-hati-hatilah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 05:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes & Komplikasinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://f221009in123/tsi/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Anda menyukai makanan dengan rasa manis? Apakah memakan makanan yang manis membuat Anda merasa mood Anda menjadi lebih baik? Apakah itu membuat Anda ingin memakan lebih banyak lagi makanan yang manis? Jika jawabannya “Ya”, hati-hatilah dengan dampaknya terhadap kesehatan Anda.
Manis : Disukai
Rasa manis memang digemari banyak orang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda menyukai makanan dengan rasa manis? Apakah memakan makanan yang manis membuat Anda merasa mood Anda menjadi lebih baik? Apakah itu membuat Anda ingin memakan lebih banyak lagi makanan yang manis? Jika jawabannya “Ya”, hati-hatilah dengan dampaknya terhadap kesehatan Anda.<span id="more-457"></span></p>
<p><strong>Manis : Disukai</strong><br />
Rasa manis memang digemari banyak orang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Amerika Serikat, tingkat kegemaran terhadap rasa manis yang tinggi ternyata dapat berbahaya bagi kesehatan seseorang. Orang yang sangat menyukai rasa manis cenderung mengalami peningkatan kondisi hati atau mood pada saat mengkonsumsi makanan yang manis. Mereka menjadi lebih bahagia dan tenang. Hal ini membuat mereka semakin banyak mengkonsumsi makanan manis tersebut. </p>
<p><strong>Mengapa tidak semua orang begitu?</strong><br />
Karena pengaruh rasa manis terhadap masing-masing orang berbeda-beda. Rasa manis mempengaruhi seseorang dengan mekanisme yang berhubungan dengan faktor genetis. Masing-masing orang tentu memiliki faktor genetis yang berbeda-beda. Salah satu gen yang diketahui mempengaruhi hal ini adalah gen TAS2R38, terutama pada anak-anak.</p>
<p><strong>Apa dampaknya?</strong><br />
Makanan manis biasanya mengandung glukosa dengan kadar yang tinggi. Masuknya glukosa di dalam jumlah yang tinggi (lebih besar daripada kalori yang dikeluarkan) akan menyebabkan glukosa yang tidak digunakan sebagai sumber energi tersimpan sebagai lemak di dalam sel. Penumpukan lemak inilah yang menyebabkan kelebihan berat badan atau obesitas. Selain mengganggu penampilan, obesitas akan menjadi masalah bagi kesehatan Anda. Ingat bahwa obesitas erat kaitannya dengan berbagai macam penyakit, di antaranya diabetes dan penyakit kardiovaskuler. Karena itu, berhati-hatilah mengkonsumsi makanan yang manis jika Anda menyayangi diri Anda. </p>
<p>Anda sangat menyukai makanan yang manis dan masih ingin banyak mengkonsumsinya? Jangan khawatir, kini ada banyak produk pemanis buatan yang rendah kalori. Pemanis ini memiliki nilai kalori yang lebih rendah sehingga tidak menyebabkan obesitas dan lebih aman dikonsumsi. Tapi pastikan pemanis buatan yang Anda gunakan bersifat aman dan sudah diijinkan, seperti produk-produk Tropicana Slim Sweetener. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tropicanaslim.com/pecinta-manis-hati-hatilah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
