All You Need to Know about Hypertension

10 August 2011 Mekanisme Kerja Jantung Secara Umum Sebelum mengenal lebih jauh tentang hipertensi, ada baiknya Anda terlebih dahulu mengetahui sedikit tentang mekanisme kerja jantung dan tekanan darah. Setiap kali jantung Anda berdetak, jantung akan memompa darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah diseluruh bagian tubuh. Tekanan darah adalah kekuatan yang diperlukan untuk mendorong darah agar dapat mengalir melalui pembuluh darah (Gambar 1). Secara umum, pembuluh darah terdiri dari 2 jenis yaitu pembuluh darah arteri dan vena. Pembuluh arteri adalah pembuluh darah yang berfungsi untuk membawa darah keluar dari jantung, sedangkan pembuluh vena adalah pembuluh yang membawa darah kembali ke jantung(1). hipertensi Gambar 1. Tekanan Darah yang Terjadi di Pembuluh Darah dari Jantung Saat Anda melakukan pemeriksaan tekanan darah, paramedis akan menyatakan tekanan darah yang terukur melalui tensimeter dengan dua angka. Sebut saja misalnya, tekanan darah Anda adalah 120/80. Angka yang pertama (120) disebut juga dengan tekanan darah sistolik; yaitu tekanan darah saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh (kontraksi). Sedangkan angka yang kedua (80) disebut juga dengan tekanan darah diastolik; yaitu tekanan darah saat jantung dalam keadaan relaksasi (1). Lalu apa yang dimaksud dengan hipertensi? Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu keadaan saat tekanan pada arteri meningkat, atau tekanan sistolik Anda cenderung meningkat dibandingkan dengan keadaan normal. Saat tekanan darah meningkat, jantung harus memompa lebih keras dan inilah yang dapat mengakibatkan kerusakan organ serta berbagai penyakit lain seperti serangan jantung, stroke, gagal jantung, sampai gagal ginjal (1). Hipertensi dapat terjadi karena 2 kondisi (Gambar 2). Kondisi yang pertama adalah saat volume darah naik, misalnya akibat konsumsi garam berlebih atau karena kerusakan ginjal. Kondisi yang kedua adalah saat pembuluh darah menyempit karena gaya hidup tidak sehat atau bertambahnya usia. Aliran pembuluh darah Gambar 2. Perbandingan kondisi normal dan hipertensi Klasifikasi Tekanan Darah dan Prevalensinya terhadap Hipertensi Dewasa ini, prevalensi hipertensi semakin meningkat. Berdasarkan Data dari Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar Nasional) tahun 2007, 3 dari 10 orang Indonesia menderita hipertensi. Mungkin lebih banyak lagi penderita hipertensi yang tidak tercatat, karena penyakit ini tidak memilliki gejala yang jelas, dan baru akan diketahui setelah pemeriksaan kesehatan. Seiring dengan meningkatnya prevalensi hipertensi di berbagai negara di dunia, perlu adanya klasifikasi tekanan darah sejak dini untuk menentukan langkah-langkah yang tepat dalam menurunkan tekanan darah dan mengurangi kemungkinan berkembangnya penyakit hipertensi. Tabel 1. menunjukkan klasifikasi tekanan darah untuk orang dewasa dari WHO.
Klasifikasi Tekanan Darah
Tekanan Sistolik (mmHg)
Tekanan Diastolik (mmHg)
Normal
<120
dan <80
Prehipertensi
120 – 139
Atau 80 – 89
Hipertensi Tahap I
140 – 159
Atau 90 – 99
Hipertensi Tahap II
≥ 160
Atau ≥100
Source: WHO (2004) Menurut klasifikasi yang telah ditetapkan WHO, prehipertensi bukanlah suatu kategori penyakit. Seseorang yang teridentifikasi mengalami prehipertensi, berisiko tinggi untuk terkena penyakit hipertensi yang sesungguhnya sehingga perlu perhatian khusus untuk mencegah atau bahkan menghindari kemunculan penyakit tersebut. Seseorang dengan prehipertensi tidak perlu mengkonsumsi jenis obat-obatan apapun, kecuali mereka juga menderita diabetes atau penyakit ginjal. Untuk menurunkan tekanan darah hingga ke batas normal, seseorang dengan prehipertensi hanya perlu mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat dengan cara mengikuti pola makan yang baik, olahraga teratur, dan berusaha mengatasi stress (2). Seseorang dengan hipertensi tahap I perlu melakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat , akan tetapi konsumsi obat-obatan mungkin akan dianjurkan oleh dokter. Tipe obat-obatan yang lazim diberikan adalah thiazide diuretik. Diuretik merupakan jenis obat yang membantu tubuh mengeluarkan ekstra cairan dan sodium. Sementara, mereka yang sudah menderita hipertensi tahap II perlu mengkonsumsi obat antihipertensi lain selain diuretik dan perubahan gaya hidup sehat (2). Akan tetapi, konsumsi obat-obatan hanyalah untuk membantu penurunan tekanan darah. Untuk mendapatkan kembali detak jantung dan tekanan darah yang normal, perubahan gaya hidup yang lebih sehat lebih penting. Faktor Penyebab Terjadinya Hipertensi (2, 3, 4, 5) Faktor penyebab terjadinya hipertensi bisa dibedakan menjadi dua; yaitu faktor yang bisa dikendalikan dan faktor yang tidak bisa dikendalikan. # Faktor yang tidak bisa dikendalikan:
  1. Usia, risiko terjadinya hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia.
  2. Jenis kelamin, sebelum usia 55 tahun, pria berisiko lebih tinggi untuk mengalami hipertensi. Wanita mengalami kemungkinan menderita hipertensi setelah menopause.
  3. Keturunan dan genetik, penyakit hipertensi cenderung menurun dari generasi ke generasi.
# Faktor yang bisa dikendalikan:
  1. Pola makan, terlalu banyak konsumsi garam dapat meningkatkan prevalensi terjadinya hipertensi.
  2. Merokok, seseorang yang merokok juga berisiko mengalami hipertensi.
  3. Kegemukan atau obesitas, kelebihan berat badan seringkali mengakibatkan penumpukan lemak di pembuluh darah sehingga tekanan darah dapat meningkat.
  4. Kurangnya aktivitas fisik, gaya hidup yang cenderung pasif dapat mengakibatkan kegemukan sehingga penumpukkan lemak di pembuluh darah dapat terjadi.
  5. Komplikasi penyakit, seseorang yang mengalami diabetes, penyakit ginjal ataupun masalah sekresi hormon akan cenderung mengalami hipertensi.
  6. Alkohol, konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah.
  7. Stress, stress juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya hipertensi.
Garam dan Hipertensi Konsumsi garam yang berlebihan berpotensi untuk menimbulkan hipertensi, terutama bagi orang-orang berusia lanjut, obesitas, dan mereka yang bermasalah dalam mengatur konsentrasi sodium dalam tubuh. Beberapa orang termasuk kategori “sodium sensitive” karena mereka tidak mampu mengeluarkan kelebihan sodium lewat ginjal. Akan tetapi, separuh dari seluruh penderita hipertensi tidak bermasalah dengan sensitivitas sodium, sehingga masalah utama kelebihan sodium tetap berasal dari konsumsi garam berlebih (6). Garam berlebih memaksa ginjal untuk mengeluarkan garam dari tubuh. Jika hal ini terus menerus terjadi, fungsi ginjal akan menurun dan tidak lagi mampu untuk mengeluarkan garam dengan optimal. Oleh karena itu, konsumsi garam berlebih secara terus menerus akan mengganggu fungsi ginjal sehingga kadar garam dalam darah tetap tinggi. Garam dapur terdiri dari 2 jenis mineral yaitu 40% sodium dan 60% klorida. Sodium pada garam akan mengikat air, sehingga kadar sodium yang tinggi akan meningkatkan volume darah. Dengan kondisi lebar pembuluh darah normal, tekanan yang diberikan oleh volume darah yang besar akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan volume darah biasanya. Selain itu, jantung juga akan bekerja lebih keras untuk memompa volume darah yang lebih besar. Untuk itulah, konsumsi garam harian perlu dikurangi (7). Bagaimana mencegah terjadinya hipertensi? (3,4,6) Untuk mencegah terjadinya hipertensi, hal utama yang perlu dilakukan adalah menjaga agar tekanan darah tetap normal. Bagaimana caranya?
  1. Menjaga pola makan yang sehat. Secara umum tidak ada pantangan yang perlu dilakukan untuk mencegah hipertensi. Yang paling penting adalah membatasi jumlah konsumsi makanan tertentu dan lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, produk whole grains, dan produk susu rendah lemak. Konsumsi lebih banyak air, serat, dan mineral seperti kalsium, kalium, dan magnesium juga baik untuk menjaga tekanan darah yang sehat.
  2. Batasi konsumsi garam. Batas maksimum konsumsi garam per hari adalah 2300 mg atau 6 g garam (setara dengan 1 sendok teh). Rekomendasi dari AHA (American Heart Association) adalah 1500 mg/hari (1).
  3. Olahraga secara teratur. Olahraga paling tidak 30 menit sehari dapat mencegah penumpukan lemak tubuh sehingga tekanan darah tetap normal. Faktanya seseorang yang aktif secara fisik memiliki risiko 20 – 50% lebih rendah untuk terkena hipertensi.
  4. Pertahankan berat badan ideal. Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko hipertensi hingga 2 – 6 kali. Usaha penurunan berat badan hingga mencapai kondisi ideal sangat baik untuk mencegah timbulnya hipertensi.
  5. Hindari stress. Berusahalah untuk menghindari hal-hal yang membuat Anda stress. Sedikit waktu untuk meditasi, yoga, atau rekreasi bersama keluarga mungkin bisa membantu atasi stress Anda.
  6. Hindari rokok dan alkohol. Kedua hal ini tidak membawa dampak yang baik bagi kesehatan dan malah berpotensi untuk meningkatkan tekanan darah dan penyakit jantung.
Jika hal-hal di atas masih belum bisa membantu penurunan tekanan darah, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan perawatan medis dan obat-obatan yang sesuai. Reference:
  1. American Heart Association. 2010. http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/HighBloodPressure/AboutHighBloodPressure/What-is-High-Blood-Pressure_UCM_301759_Article.jsp
  2. US Department of Health and Human Services. 2004. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. USA: National High Blood Pressure Education Program.
  3. WebMD. 2009. http://www.webmd.com/hypertension-high-blood-pressure/guide/blood-pressure-causes
  4. US National Institutes of Health. 2010. http://www.nia.nih.gov/HealthInformation/Publications/hiblood.htm
  5. US National Institutes of Health. 2010. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000468.htm
  6. Wardlaw, Gordon M. and Jeffrey S. Hampl. Perspectives in Nutrition, 7th ed. USA: McGraw Hill, 2004.
  7. Strazzullo P, D’Elia L, Kandala N-B, Cappuccio FP. 2009. Salt intake, stroke, and cardiovascular disease: meta-analysis of prospective studies. BMJ 339:b4567.
  8. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2007. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional.


Comments

  1. Atien

    May 25, 2013, 12:46 am

    Artikelnya keren semuanya ada yang saya butuhkan .
    saya mau bertanya apakah hipertensi yang sudah keturunan itu bisa disembuhkan atau tidak ? terimaksih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *